MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA
“Hadis Dan Alqur’an”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK : 5
1.SUWANDI
2.IMAM SARIPUDIN
PRORAM STUDY TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BATURAJA
Tahun Ajaran 2010/2011
BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Berdasarkan tugas yang diberikan oleh Dosen Pendidikan Agama mengenai materi ALQUR’AN DAN HADIST dan melihat kondisi mengenai kemajuan teknologi yang sangat pesat dan semakin bebas,sehingga banyak orang yang mungkin termasuk kita lupa kepada kwajiban sebagai manusia yang beriman.Maka dengan ini, kami ingin mengingatkan kembali tetang Alqur’an Dan Hadist,yang kami rangkum dalam bentuk makalah.
B. Rumusan Masalah
Mengapa kita perlu mempelajari alqur’an dan hadist?
Apa pengertian alqur’an dan hadist?
Apa perbedaan alqur’an dan hadist?
C. Tujuan dan ManfaatPenulisan
Adapun tujuan dan manfat penulisan makalah ini, penulis berharap dapat memberikan suatu kontribusi mengenai materi ALQUR’AN DAN HADIST dan dapat memberikan sebuah dorongan untuk lebih memahami tentang Alqur’an Dan Hadist, khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi kawan – kawan yang membaca makalah ini.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.DEFINISI AL-QUR’AN
Kata “qur’an” menurut bahasa adalah sama dengan kata “Qiroah” yaitu isim masdar (infinitif) dari kata Qoroa-yaqro-u-qiroatan. Demikian lah menurut sebagian ulama. Hal ini berdasarkan firman Allah
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan (dalam dadamu) dan (membuatnya pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai embacanya maka ikutilah bacaannya.” ( Q.S Al-Qiyamah : 17)
Sedangkan menurut Istilah, Al-qur’an didefinisikan sebagai: Kalam Allah yang tiada tandingannya (mu’jizat), yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril, yang tertulis didalam mushaf dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, yang sampaikepada kita secara mutawatir serta membacanya merupakan ibadah.
B. Nama-nama Al-qur’an
Terdapat beberapa nama untuk alqur’an sebagai man telah disebut kan oleh Allah sendiri
1. Al – Qur’an ( Slalu dijaga dan dihafal )
Firman Allah ; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. ( QS Al Isro’ : 9 )
2. Kitab ( Ditulis diatas lembaran-lembaran yang tersusun)
Firman Alah, “ telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu” ( QS Al-Anbiya : 10 )
3. Furqon ( Pembeda )
Firman Allah; “ Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada semsta”. ( QS. Al-Furqon : 1 )
4. Adz-Dzikr ( Peringatan / pelajaran )
Firman Allah; “Sesunggahnya Kami lah yang menurunkan Adz-Dzikr ( Al-Qur’an ), dan sesungguhnya kami pulalah yang benar-benar akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr : 9 )
5. At-Tanzil ( yang diturunkan )
Firman Allah, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan (Tanzil ) oleh Tuhan semesta aalam.” (QS. Asyura’ : 192 )
Dari kelima nama tersebut diatas yang paling popular disebut aalah Al-Qur’an dan Kitab. Penamaan Qur’an dengan kedua nama iini memberika isyarat bahwa selayaknya lah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian apabila salah satunya melencengmaka yang lain akan melurusnya. Kita tidak menyandarkan pada hafalan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada generasi ke generasi menurut keadaan sewaktu dibuat pertama kali.dan kitapun tidak menyandarkan hanya pada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan ttersebut berdasarkan sanad yang shohih dan mutawatir.
B.CARA PENURUNAN AL-QUR’AN
Ada empat pendapat mengenai cara penurunan Al-Quran
a) Allah menurunkannya dari Al-Lauh Al-Mahfudz ke langit dunia pada malam qadar (lailatul qadar) secara sekaligus. Kemudian diturunkan-Nya secara bertahap selama 20 tahun atau 23 tahun atau 25 tahun sesuai perbedaan pendapat tentang masa tinggal Rosulullah SAW gi Mekah setelah kenabian.
b) Allah menurunkannya ke langit dunia dalam 20 atau 23 atau 25 kali malam qadar, sesuai perbedaan pendapat masa tinggal Rosulullah SAW di Mekah setelah kenabian. Ia diturunkan pada setiap malam qadar tersebut sesuai jumlah yang telah ditetapkan Allah dalam setiap tahun penurunannya. Kemudian setelah itu diturunkan secara bertahap.
c) Penurunannya dimulai pada malam qadar, kemudian setelah diturunkan secara bertahap sepanjang masa penurunannya.
d) Diturunkan dari Al-Lauh Al-Mahfudz secara sekaligus dan bahwa para penjaganya mengansurnya kepada Jibril selama 20 malam, kemudian Jibril menurunkannya kepada Muhammad SAW, selama 20 tahun.
Ada dua cara penurunan (Tanzil)
a) Nabi Muhammad SAW, keluar dari dimensi fisik manusiawinya dan memasuki dimensi Rohani Malaikat, kemudian menerimanya dari Jibril. Cara ini dirasakan paling berat bagi Nabi SAW.
b) Malaikat Jibril keluar dari dimensi rohani malaikatnya dan memasuki dimensi fisik manusiawi, kemudian Rosulullah SAW, menerima darinya.
Cara-cara Al-Quran diwahyukan
Nabi Muhammad saw. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, diantaranya:
a Malaikat memasukkan wahyu itu kw dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw. Tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qusdus mewahyukan ke dalam kalbuku”, (lihat surat 42 Asy Syuuraa ayat 51).
b Jibril datang kepadanya dalam bentuk manusia kemudian menyampaikan wahyu kepadanya. Sebagaimana dijelaskan di dalam Hasdist shahih: “Dan kadang-kadang malaikat (Jibril) menjelma sebagai seorang laki-laki yang datang kepadaku, lalu akupun memahami dengan baik apa yang sdiucapkannya”. Cara ini paling mudah bagi Rosulullah saw.
c Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingan lonceng. Cara inilah yang sangat berat yang dirasakan oleh Nabi. Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi saw. “Apa yang dirasakan ketika turunnya wahyu?” Nabi saw. Menjawab: “Aku mendengar bunyi lonceng dan pada saat itu aku diam”. Kadang-kadang di keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim yang sangat dingin. Kadan-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “ Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rosulullah. Aku melihat Rosulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.
d Malaikat menampakan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti pada no. 2, tetapi benar-banar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qurqn surat 53 An-Najm ayat 13 dan 14.
Artinya: “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (Kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha”. (QS. An-Najm : 13-14).
e Malaikat datang dan bertemu Rosulullah ketika Rosulullah saw. Sedang tidur (mimpi). Kemudian malaikat jibril menyampaikan ayat-ayat.
Al-Quran diturunkan secara bertahap
Perlu kita ketahui bahwa Al-Quran diturunkan tidak sekaligus yaitu sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepada sekaligus?” , demikianlah (Kami menurunkannya secara bertahap) supaya Kami perkuat hatimu dengannya.” (QS. Al-Furqan : 32).
Yakni untuk meneguhkan hati Rosulullah saw. Sebab apabila wahyu senantiasa dating dalam setiap peristiwa maka hal ini akan lebih menguatkan hati dan memberikan perhatian yang lebih kepada penerimanya. Dengan cara ini pula Jibril akan berkali-kali turun kepadanya sehingga menimbulkan kegenbiraan di hati Rosulullah saw. Karena itu saat yang dirasakan paling membahagiakan bagi Rosulullah saw. ialah pada bulan Ramadhan, sebab di bulan ini Rosulullah saw. sering bertemu dengan Jibril.
Ada ulama yang mengartikan “supaya Kami perkuat hatimu dengannya” yakni supaya kamu dapat menghafalnya. Sebab Rosulullah saw. adalah seorang yang ummiy yang tidak biasa membaca dan menulis. Selain untuk lebih mudah dihafal oleh Rosulullah saw. Allah juga bertujuan yaitu supaya mudah dimengerti dan dilaksanakannya. Selain itu diantara ayat-ayat yang turun ada yang nasikh dan ada yang mansukh sesuai dengan kemaslahatannya. Turunnya ayat yang sesuai dengan peristiwannya akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di dalam hati. Dan diantara ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapatatau perbuatan.
C.HADIST.
Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an.
Struktur Hadits
SecarSa struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi).
Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (Hadits riwayat Bukhari)
Sanad
Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah
Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW
Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits.
Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait dengan sanadnya ialah :
• Keutuhan sanadnya
• Jumlahnya
• Perawi akhirnya
Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi.
Matan
Matan ialah redaksi dari hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah:
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri"
Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadist ialah:
• Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
• Matan hadist itu sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang).
Klasifikasi Hadits
Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan)
Berdasarkan ujung sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat), mauquf (terhenti) dan maqtu' :
• Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya)
• Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.
• Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".
Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan, Science of Hadits).
Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Munqati', Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.
Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW
• Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.
• Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
• Hadits Munqati' . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3
• Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
• Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).
Berdasarkan jumlah penutur
Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.
• Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat)
• Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain :
o Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
o Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan)
o Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.
Berdasarkan tingkat keaslian hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da'if dan maudu'
• Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sanadnya bersambung;
2. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
3. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
• Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
• Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
• Hadits Maudu', bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
Jenis-jenis lain
Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:
• Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
• Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.
• Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)
• Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
• Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
• Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah
• Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
• Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
• Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya
Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim
1. Shahih Bukhari, disusun oleh Bukhari (194-256 H)
2. Shahih Muslim, disusun oleh Muslim (204-262 H)
3. Sunan Abu Daud, disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)
4. Sunan at-Turmudzi, disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)
5. Sunan an-Nasa'i, disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H)
6. Sunan Ibnu Majah, disusun oleh Ibnu Majah (209-273).
7. Imam Ahmad bin Hambal
8. Imam Malik
9. Ad-Darimi
Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah
Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw, melalui Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali, seperti Aisyah, istri Muhammad saw, yang melawan Ali pada Perang Jamal.
Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, tetapi sebagian besar menggunakan:
• Ushul al-Kafi
• Al-Istibshar
• Al-Tahdzib
• Man La Yahduruhu al-Faqih
D.PERILAKU NABI dan HADIST NABI YANG PATUT DITIRU
BERPERILAKU BAIK DENGAN TETANGGA
Abu Hurairah RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda: “Tiada akan masuk ke dalam surga, siapa yang tidak aman tetangganya dari bahaya kejahatannya.
MENGASIHI TETANGGA
عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه والسلام وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَيُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Anas bin Malik RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang diriku dalam kekuasaannya! Tiada sempurna iman seseorang kamu, sehingga dia menyukai untuk tetangganya apa yang disukainya untuk dirinya sendiri.”
BERKATA YANG BENAR ATAU DIAM
Abu Hurairah RA katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia mengucapkan perkataan yang bai atau diam saja. Siapa yang berima kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia memuliakan (menghormati) tetangganya, Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia memuliakan tamunya.”
عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه والسلام اَيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ اِذَاحَدَثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَاِذَاؤْتُمِنَ خَانَ
TANDA ORANG MUNAFIK
Abu Hurairah RA katanya: “Rasulullah SAW bersabda :” Tanda orang munafiq (beriman palsu) itu tiga : Apabila bercerita, dia bohong. Apabila berjanji, dia ingkar. Apabila dipercaya (diberi tanggung jawab), dia berkhianat.”
UCAPAN SALAM MENUMBUHKAN KASIH SAYANG
Abu Hurairah RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tiada akan masuk surga sebelum kamu beriman. Kamu tiada beriman sehingga kamu saling mencintai (mengasihi) satu sama lain. Tidakkah lebih baik, kalau aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang kalau kamu perbuat niscaya kamu akan saling mencintai satu sama lain: Sebarkanlah ucapan salam diantara kalian!”
MENGASIHI SAUDARA SEPERTI MENGASIHI DIRI SENDIRI
Anas bin Malik RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga ia menyukai untuk saudaranya seperti apa yang disukainya untuk dirinya sendiri.”
ORANG YANG MEMBENCI DAN BERMUSUHAN DENGAN BAPAKNYA
Abu Hurairah RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda :”Janganlah kamu membenci bapakmu, karena siapa yang benci kepada bapaknya, maka dia kufur.”
عن جرير قال قال رسول الله صلى الله عليه والسلام فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ اِسْتَنْصِتِ النَّاسَ ثُمَّ قَالَ لاَتَرْجِعُوْابَعْدِى كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
Jarir RA katanya: “Rasulullah SAW bersabda pada waktu haji Wada’(penghabisan) : “Suruhlah orang-orang itu tenang dan mendengarkan!” Kemudian beliau bersabda : “Janganlah sepeninggalku, kamu menjadi kafir, dimana sebagian kamu memukul kuduk kawannya (saling membunuh).”
DOSA BESAR
Abdullah RA berkata :
“Saya bertanya kepada Rasulullah SAW : “Dosa manakah yang paling besar disisi Alllah? “ Nabi menjawab : “Mengadakan sekutu kepada Allah, sedang Dia adalah yang menciptakanmu.” Saya bertanya : “Sesungguhnya itu amat besar. Sesudah itu apa?” Nabi menjawab : “Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan beserta kamu.” Saya bertanya : “Kemudian itu apa?” Nabi menjawab: “Sesudah itu, engkau berzina dengan
isteri tetanggamu.”
عن أَبِى بَكْرَةَ قال كُنَّ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه والسلام فَقَالَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِاَكْبَرِالْكَبَائِرِثَلاَثًا اَلإِْشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ أَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ
Abu Bakroh berkata:
“Kami bersama dengan Rasulullah SAW lalu beliau bersabda : “Akan kuberitakan kepada kalian tentang dosa besar” Ucapan ini diulangnya tiga kali. “mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua dan kesaksian palsu atau perkataan palsu.”
ORANG YANG SOMBONG
Abdullah bin Mas’ud RA berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” Seorang laki-laki bertanya :”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab : “Sesungguhnya Alla itu Indah, Dia menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.”
Abdullah RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam neraka, seseorang yang didalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi. Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”
BERIMAN DAN BERPENDIRIAN TEGUH
عن سفيان بن عبدالله الثَّ
قَفِى قال قُلْتُ يَارَسُوْلُ اللهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاًلاَأَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ فَأسْتَقِمْ
Sofyan bin Abdullah Assaqofi RA katanya:“Saya mengatakan :“Ya Rasulullah ! Katakanlah kepada saya tentang Islam, suatu perkataan yang tidak memerlukan saya bertanya kepada seseorang selain engkau!” Beliau bersabda: Ucapkanlah: “Saya beriman kepada Allah. Kemudian tetaplah berpendirian lurus!”
MENCACI MAKI ORANG TUA
Abdullah bin Amru bin ‘Ash RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda : “Termasuk dosa besar, mencacinya seseorang akan kedua orang tuanya.” Mereka bertanya : “Ya Rasulullah!, Adakah seseorang akan mencaci kedua orang tuanya?” Nabi menjawab : “Ya! Dicacinya bapak orang lain, lalu orang itu mencaci bapaknya. Dicacinya ibu orang lain, lalu orang itu mencaci ibunya.”
PENCURI DAN PENODONG
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Abu Hurairah RA berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menodongkan senjata kepada kita, maka dia itu bukan golongan kita. Dan barang siapa menipu kita, maka dia bukan golongan kita.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ. فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيْهَا. فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً. فَقَالَ: مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ. يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
Abu Hurairah RA berkata:“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melewati tumpukan makanan, lalu beliau memasukkan tangannya kedalam tumpukan itu, maka tangan beliau menjadi basah. Beliau bertanya : “Mengapa begini, hai tukang makanan?” Jawabnya: “Kehujanan ya Rasulullah!” Sabda beliau :”Mengapa tidak engkau letakkan disebelah atas, supaya kelihatan orang? Barang siapa menipu dia tidak masuk golonganku.”
IMAN dan TANDA KIAMA
Dari Umar bin Khathab RA katanya:
” Ketika kami bersama Rasululloh SAW pada suatu hari, datang seorang laki-laki yang sangat putih kainnya dan sangat hitam rambutnya. Tiada kelihatan padanya tanda-tanda bekas perjalanan, Dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk dekat Nabi SAW dan disandarkannya lututnya ke lutut Nabi, dan diletakkannya kedua tapak tangannya di atas kedua paha beliau.”
“Dia bertanya: “Hai Muhammad ! Beritakanlah kepadaku tentang Islam !” Rasululloh SAW menjawab: “Islam itu ialah engkau mengakui, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah (Utusan Allah). engkau mengerjakan sholat, engkau membayar zakat, engkau berpuasa dibulan Ramadhan dan engkau sengaja mengunjungi Ka’bah (naik haji) kalau engkau sanggup datang kesitu.”
Katanya: “Benar perkataanmu !” Kata Umar: “Kami merasa heran, karena dia bertanya dan kemudian menyatakan bahwa ucapan Nabi itu benar.”
“Dia bertanya: “Beritakanlah kepadaku tentang iman. !” Nabi menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, MalaikatNya, KitabNya, Rasul-RasulNya, hari akhirat (kiamat) dan engkau mempercayai adanya qadar buruk dan baik.” Katanya: “Benar perkatanmu !”“Dia Bertanya: “Beritakanlah kepadaku tentang ihsan !” Jawab: “Engkau menyembah Allah, seolah-olah engkau melihatNya. Kalau engkau tidak bisa seolah-olah melihatNya, maka ingatlah bahwa Allah melihat engkau.”
“Tanya: “Beritakanlah kepadaku tentang sa’at (kiamat) !” Jawab : “Orang yang ditanya tentang sa’at, tidak lebih tahu dari orang yang bertanya.”
“Tanya : “Beritakanlah kepadaku tanda-tandanya !” Jawab : “Hamba sahaya perempuan melahirkan tuannya dan engkau lihat orang-orang yang berkaki telanjang, tiada berpakaian, miskin dan pengembala kambing, mereka bersenang-senang mendiami gedung-gedung besar.”
“Kata Umar: “Sesudah itu laki-laki tadi berangkat. Tiada lama kemudian Nabi mengatakan kepadaku: “Hai Umar ! Tahukah engkau, siapakah orang yang bertanya tadi ?” Saya menjawab: “Allah dan RosulNya lah yang lebih tahu!” Kata Nabi: “Dia adalah malaikat Jibril, datang kepada kamu untuk mengajarkan kepadamu akan agamamu.”
ORANG BERIMAN DAN KAFIR DI PAGI HARI
Zaid bin Khalid RA katanya: “Rasulullah SAW sembahyang bersama kami, shalat Subuh di Hudaibiyah sesudah hujan diwaktu malam. Setelah selesai shalat beliau menghadap kepada orang banyak dan berkata :”Tahukah kamu, apa yang diucapkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab :”Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Kata Nabi : “Tuhan mengatakan : “Sebagian dari hambaKu dipagi hari, ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, bahwa kita ditimpa hujan karena karunia Allah dan rahmatNya, maka orang itu beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa kita ditimpa hujan, karena bintang ini dan bintang itu, maka orang itu kafir kepadaKu dan beriman kepada bintang.”
ORANG MRENUNTUT BALAS
عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ اْلأَسْوَدِ أَنَّهُ قال يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَئَيْتَ إِنْ لَقِيْتُ رَجُلاً مِنَ الْكُفَّارِ فَقَاتَلَنِى فَضَرَبَ اِحْدَى يَدَيَّ بِالسَّيْفِ فَقَطَعَهَا ثُمَّ لاَذَ مِنِّى بِشَجَرَةٍ فَقَالَ أَسْلَمْتُ للهِ أَفَأَقْتُلُهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بَعْدَ أَنْ قَالَهَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام لاَتَقْتُلْهُ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّهُ قَدْ قَطَعَ يَدِى ثُمَّ قَالَ ذَلِكَ بَعْدَ أَنْ قَطَعَهَا أَفَأَقْتُلُهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام لاَ تَقْتُلْهُ فَاِنْ قَتَلْتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَقْتُلَهُ وَاِنَّكَ بِمَنْزِلَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُوْلَ كَلِمَتَهُ الَّتِى قَالَ
Miqdad bin Aswad RA berkata: “Sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat Engkau, kalau saya bertemu (dalam peperangan) dengan seseorang dari kaum kafir, lalu say diperanginya dan dipukulnya sebela tanganku dengan pedang sampai putus Kemudian dia berlindung kedekat sebuah pohon kayu, lalu mengucapkan : “Saya Islam kepada (karena) Allah! Bolehkah saya membunuhnya, ya Rasulullah sesudah dia mengucapkan perkataan itu?” Rasulullah menjawab : “Jangan membunuhnya!” Kata Miqdad : “Ya Rasulullah! Dia telah memotong tanganku baru kemudian dia mengucapkan perkataan yang demikian. Bolehkah saya membunuhnya?” Jawab Beliau : “Jangan membunuhnya! Kalau engkau membunuhnya, dia sama dengan engkau sebelum engkau membunuhnya, dan engkau sama dengan dia sebelum dia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu.”
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Baiklah teman teman sekalian setelah kita amati dan kita diskusikan secara bersama-sama,dapat kita tarik kesimpulan bahwa alqur’an dan hadist,saling berkaitan tetapi alqur’an sebagai wahyu dari Tuhan,sementara hadist adalah prilaku Nabi yang wajib kita tiru dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari
B. SARAN
Dengan berahirnya makalah kami maka kami menyaran kepada teman-teman sekalian agar kita dapat meniru prilaku Nabi dalam kehidupan kita,khususnya di jaman dan era saat ini yang kita ketahui sudah sulit untuk kita temui orang-orang yang mempunyai sifat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/monotheism/telaah_teologis_tujuh/001.html
http://marzokey.wordpress.com/2010/02/15/turunnya-al-quran/
http://duniajunaedi.blog.com/?p=31